Apa yang terjadi pada tubuh saat berhenti vape dapat berbeda pada setiap orang. Perubahan yang paling sering dirasakan berkaitan dengan berkurangnya atau berhentinya paparan nikotin, terutama jika vape yang digunakan sebelumnya mengandung nikotin.
Saat seseorang berhenti vape, tubuh dan otak perlu menyesuaikan diri dengan kondisi tanpa nikotin. Proses ini dapat memicu gejala putus nikotin atau nicotine withdrawal. Gejalanya bersifat sementara, tetapi dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman dan ingin kembali menggunakan vape.
Tubuh Mulai Menyesuaikan Diri Tanpa Nikotin
Nikotin dapat menyebabkan ketergantungan. Ketika seseorang menggunakan vape secara berulang, tubuh dan otak dapat terbiasa dengan keberadaan nikotin.
Saat penggunaan dihentikan, kadar nikotin dalam tubuh menurun. Otak kemudian membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Proses inilah yang dapat memicu keinginan kuat untuk kembali menggunakan vape.
Tidak semua pengguna vape mengalami gejala dengan tingkat yang sama. Frekuensi penggunaan, kadar nikotin, serta tingkat ketergantungan dapat memengaruhi pengalaman saat berhenti.
Muncul Keinginan Kuat untuk Vape
Salah satu hal yang paling umum terjadi saat berhenti vape adalah munculnya craving atau keinginan kuat untuk menggunakan vape kembali.
Keinginan tersebut dapat muncul pada waktu tertentu. Misalnya saat sedang stres, setelah makan, ketika minum kopi, atau saat melihat orang lain menggunakan vape.
Keinginan untuk vape dapat terasa kuat pada awal proses berhenti. Namun, dorongan tersebut biasanya bersifat sementara dan dapat berkurang seiring tubuh menyesuaikan diri tanpa nikotin.
Suasana Hati Bisa Berubah
Berhenti vape juga dapat memengaruhi suasana hati. Beberapa orang mungkin merasa lebih mudah marah, gelisah, cemas, atau merasa sedih.
Perubahan tersebut dapat terjadi sebagai bagian dari gejala putus nikotin. Otak sedang beradaptasi setelah tidak lagi menerima nikotin seperti sebelumnya.
Gejala ini umumnya bersifat sementara. Namun, jika rasa sedih, kecemasan, atau perubahan suasana hati terasa berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya berbicara dengan tenaga kesehatan.
Sulit Berkonsentrasi
Sebagian orang dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi saat berhenti vape. Pikiran tentang nikotin dan keinginan untuk menggunakan vape kembali dapat mengganggu fokus.
Kesulitan berpikir jernih juga termasuk salah satu gejala yang dapat muncul selama masa putus nikotin.
Kondisi ini tidak selalu berlangsung lama. Memberikan waktu untuk tubuh beradaptasi, menjaga pola tidur, dan mengurangi pemicu dapat membantu proses berhenti vape.
Pola Tidur Dapat Berubah
Perubahan pola tidur juga dapat terjadi setelah berhenti vape. Ada orang yang merasa sulit tidur, sementara sebagian lainnya merasa lebih lelah atau mengantuk.
Gangguan tidur merupakan salah satu gejala yang dapat muncul ketika tubuh sedang menyesuaikan diri tanpa nikotin.
Menjaga jadwal tidur yang teratur dapat membantu tubuh beradaptasi. Sebaiknya kurangi paparan layar sebelum tidur dan hindari kebiasaan yang dapat mengganggu waktu istirahat.
Nafsu Makan Bisa Meningkat
Sebagian orang mungkin merasa lebih sering lapar setelah berhenti menggunakan vape. Peningkatan nafsu makan termasuk salah satu gejala yang dapat muncul selama masa putus nikotin.
Kondisi ini dapat membuat seseorang lebih sering mencari camilan. Menyiapkan pilihan makanan yang lebih sehat dapat membantu mengatasi kebiasaan tersebut.
Buah, sayuran, kacang, atau makanan ringan dengan porsi yang sesuai dapat menjadi alternatif ketika ingin mengunyah sesuatu.
Merasa Gelisah atau Tidak Tenang
Rasa gelisah dapat muncul ketika tubuh terbiasa menerima nikotin secara rutin. Saat vape dihentikan, seseorang mungkin merasa sulit untuk diam atau mengalami dorongan kuat untuk kembali menggunakan vape.
Gejala seperti mudah tersinggung, gelisah, dan merasa tegang termasuk tanda yang dapat terjadi selama masa putus nikotin.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, melakukan peregangan, atau latihan pernapasan dapat membantu mengalihkan perhatian ketika keinginan untuk vape muncul.
Gejala Putus Nikotin Akan Berkurang Seiring Waktu
Masa penyesuaian setiap orang berbeda. Gejala putus nikotin dapat terasa lebih kuat pada awal berhenti dan kemudian berangsur berkurang.
WHO menyebut gejala seperti keinginan kuat menggunakan nikotin, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi dapat muncul saat berhenti. Gejala tersebut umumnya paling terasa pada masa awal dan dapat berkurang seiring waktu.
Hal penting yang perlu diingat adalah rasa tidak nyaman selama masa berhenti tidak berarti tubuh membutuhkan vape. Gejala tersebut dapat menjadi bagian dari proses tubuh dan otak menyesuaikan diri tanpa nikotin.
Baca juga : Bahaya Penggunaan Vape bagi Kesehatan
Apa yang Bisa Dilakukan Saat Ingin Vape Lagi?
Keinginan untuk kembali vape bisa muncul secara tiba-tiba. Memiliki rencana sederhana dapat membantu menghadapi situasi tersebut.
Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
- Minum air putih.
- Mengalihkan perhatian dengan berjalan kaki atau melakukan aktivitas lain.
- Melakukan latihan pernapasan.
- Menyiapkan camilan yang lebih sehat.
- Menghindari situasi yang menjadi pemicu keinginan untuk vape.
- Memberi tahu keluarga atau teman bahwa sedang berusaha berhenti.
- Berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika merasa kesulitan.
Mengidentifikasi pemicu juga penting. Waktu, tempat, aktivitas, atau emosi tertentu dapat membuat seseorang lebih ingin menggunakan vape.
Berhenti Vape Bisa Membutuhkan Dukungan
Berhenti vape tidak selalu mudah, terutama bagi pengguna yang sudah mengalami ketergantungan nikotin. Karena itu, mencari dukungan dapat membantu proses berhenti.
CDC dan WHO menyarankan pengguna yang ingin berhenti untuk membuat rencana, menentukan waktu berhenti, mengenali pemicu, serta mencari bantuan dari tenaga kesehatan atau orang terdekat.
Jika seseorang menggunakan vape dan rokok secara bersamaan, berhenti dari kedua produk dapat menjadi tantangan yang berbeda. Penggunaan ganda juga dapat mempertahankan ketergantungan nikotin.
Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Berhenti Vape Tidak Selalu Sama
Apa yang terjadi pada tubuh saat berhenti vape tidak akan selalu sama pada setiap orang. Sebagian orang mungkin lebih banyak mengalami keinginan kuat untuk vape, sementara yang lain lebih merasakan perubahan suasana hati, pola tidur, atau nafsu makan.
Hal yang umum terjadi adalah tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri setelah berhenti menerima nikotin. Gejala putus nikotin dapat terasa tidak nyaman, tetapi biasanya bersifat sementara dan berkurang seiring waktu.
Berhenti vape dapat menjadi proses yang membutuhkan strategi dan dukungan. Jika gejala terasa berat atau sulit dikendalikan, berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu menemukan cara yang lebih sesuai untuk berhenti.
Tinggalkan Balasan